Bersih Diri Dalam Islam


A.Pengertian tazkiyatun nafs

Tazkiyah, secara bahasa (harfiah) berarti Tathahhur, maksudnya bersuci. Kata tazkiyah ,penyucian, dalam bahasa arab memiliki banyak arti diantaranya adalah penyucian dan pertumbuhan. Di tinjau dari maknanya secara bahasa juga, kata Tazkiyah An-Nafs berasal dari bahasa arab yaitu, “Azka Yuzki Tazkiyyatan” yang maknanya sama dengan tathir yang berasal dari kata thahhara-yuthahhiru-tathir[ah] yang berarti pembersihan, penyucian atau pemurnian Kata itu dalam istilah juga berarti penyucian dan pertumbuhan. Seperti yang terkandung dalam kata zakat, yang memiliki makna mengeluarkan sedekah berupa harta yang berarti tazkiyah (penyucian). Karena dengan mengeluarkan zakat, seseorang berarti telah menyucikan hartanya dari hak Allah yang wajib ia tunaikan.

Dalam Alquran ada beberapa pengertian tazkiyah an nafs:

  1. 1. Pertama, menyucikan diri dari kemusyrikan dan kekufuran.

Dalam QS Al Jumuah [62] ayat 2,

salah satu kata berbunyi yuzakkihim memiliki makna ”menyucikan diri dari najis dan kekufuran” (Ath Thabari, 28/93).

Najis di sini menunjukkan orang-orang musyrik (QS At Taubah [9]: 28). Sedangkan menurut Al Qurthubi kata yuzakkihim bisa bermakna ”menjadikan kalbu-kalbu mereka suci dengan keimanan”.

  1. 2. Kedua, bermakna ”menyucikan diri dari keburukan-keburukan amal perbuatan, dengan melakukan amal-amal saleh”. Abi Saud menyimpulkan dalam kata yuzakkihim merupakan tugas Rasul yang membawa manusia pada kesucian; suci akidah dan amal perbuatannya (Abi As Saud, 8/247).
  2. 3. Ketiga, menjalankan ketaatan kepada Allah SWT. Dalam QS Asy Syam [91] ayat 60 terdapat frasa man zakkaha. Menurut Al Qurthubi frasa ini bermakna ”siapa yang disucikan jiwa oleh Allah dengan ketaatan kepada-Nya”. Hal senada dikemukakan pula oleh Ibnu Katsir.
  3. 4. Keempat, tidak memiliki dosa atau bertobat dari dosa-dosa (QS Al Kahfi [18]: 74).
  4. 5. Kelima, totalitas keimanan dan ketaatan kepada Allah SWT (QS Thaha[20]: 76). Menurut Ibnu Katsir dalam ayat ini terdapat kata man tazakka yang bermakna menyucikan dirinya dari dosa, keburukan dan syirik. Hanya menyembah Allah semata, tidak menyekutukan-Nya, senantiasa mengikuti segala perbuatan baik sebagaimana dicontohkan Rasulullah SAW.[1]

Dengan demikian, seseorang yang mengharapkan keridhaan Allah dan kebahagiaan abadi di hari akhir hendaknya benar-benar memberi perhatian khusus pada tazkiyatun nafs (penyucian jiwa). Ia harus berupaya agar jiwanya senantiasa berada dalam kondisi suci. Kedatangan Rasulullah shallallahu alaihi wa sallam ke dunia ini tak lain adalah untuk menyucikan jiwa manusia. Firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

“Dialah yang mengutus kepada kaum yang buta huruf seorang Rasul dari golongan mereka, yang membacakan ayat-ayat-Nya kepada mereka, menyucikan mereka dan mengajarkan kepada mereka Kitab dan Hikmah (As-Sunnah). Dan sesungguhnya mereka sebelumnya dalam kesesatan yang nyata”. (Al-Jumu’ah: 2).

Ini sangat terlihat jelas pada jiwa para sahabat antara sebelum memeluk Islam dan sesudahnya. Sebelum mengenal Al-Islam jiwa mereka dalam keadaan kotor oleh debu-debu syirik, ashabiyah (fanatisme suku), dendam, iri, dengki dan sebagainya. Namun begitu telah disibghah (diwarnai) oleh syariat Islam yang dibawa Rasulullah SAW, mereka menjadi bersih, bertauhid, ikhlas, sabar, ridha, zuhud dan sebagainya.

 

 

Tazkiyyatun Nafsi yang dibawa oleh para Rasul ini adalah melalui:

  • Tadzkiir : Terhadap ayat-ayat ALLAH di setiap ufuk dan dalam diri manusia, terhadap perbuatan ALLAH atas ciptaan-NYA dan terhadap hukuman dan siksaan-NYA.
  • Ta’liim : Mempelajari Kitab dan Sunnah.
  • Tazkiyyah : Membersihkan hati dan memperbaiki tingkah-laku.

Keberuntungan dan kesuksesan seseorang, sangat ditentukan oleh seberapa jauh ia men-tazkiyah dirinya. Barangsiapa tekun membersihkan jiwanya maka sukseslah hidupnya. Sebaliknya yang mengotori jiwanya akan senantiasa merugi, gagal dalam hidup. Hal itu diperkuat oleh Allah Subhanahu wa Ta’ala dengan sumpahNya sebanyak sebelas kali berturut-turut, padahal dalam Al-Qur’an tidak dijumpai keterangan yang memuat sumpah Allah sebanyak itu secara berurutan. Marilah kita perhatikan firman Allah sebagai berikut:

“Demi matahari dan cahayanya di pagi hari, dan demi bulan apabila mengiringinya, dan malam bila menutupinya, dan langit serta pembinaannya, dan bumi serta penghamparannya, dan jiwa serta penciptaannya (yang sempurna), maka Allah mengilhamkan pada jiwa itu (jalan) kefasikan dan ketaqwaannya, sungguh beruntunglah orang yang menyucikan jiwanya, dan sungguh merugilah orang yang mengotori jiwanya”.(Asy-Syams: 1-10).

Dalam ayat yang lain juga disebutkan bahwa nantinya harta dan anak-anak tidak bermanfaat di akhirat. Tetapi yang bisa memberi manfaat adalah orang yang menghadap Allah dengan Qalbun Salim , yaitu hati yang bersih dan suci. Firman Allah:

“yaitu di hari harta dan anak laki-laki tidak berguna, kecuali orang-orang yang menghadap Allah dengan hati yang bersih”. (Asy-Syu’araa’:88-89).

B. Perbedaan Tazkiyatun Nafs dengan Thaharah

Dalam implementasinya, maka istilah thaharah dan nazhafah ternyata kebersihan yang bersifat lahiriyah dan maknawiyah, sementara nazhafah atau fikih, istilah thaharah digunakan. Namun demikian, ketika Allah menerangkan tentang penggunaan air untuk thaharah disandingkan pula dengan kesucian secara maknawiyah, Dimaksud dengan maknawiyah ialah kesucian dari hadats, baik hadats besar maupun hadats kecil, sehingga dapat melaksanakan ibadah, seperti salat dan thawaf. [2]

Sedangkan tazkiyatun nafs merupakan penyucian diri yang mencakup aspek rohaniah, yaitu pembersihan diri dengan menyucikan hati, jiwa dan pikiran dalam menjalankan ibadah. Tazkiyatun nafs mencakup pembersihan jiwa dari penyakit hati, mencapai kekhusukan dalam beribadah, membersihkan harta-harta kita dengan zakat, puasa, haji, dll.

Jadi dapat disimpulkan thaharah itu merupakan sarana pembersihan diri dari aspek jasmaniyah. Sedangkan tazkiyatun nafs itu merupakan sarana pembersihan dari aspeh rohaniyahnya(jiwa). Dan dalam pelaksaan pembersihan diri secara jasmaniyah dan rohaniah memiliki metode-metode yang berbeda-beda.

C. Jenis dan Peringkat jiwa/nafs

Allah SWT telah menjelaskan dan memberikan petunjuk dalam ayat-ayatNya mengenai jenis-jenis nafs (jiwa) sekaligus menunjukkan peringkat-peringkatnya, sehingga kita dapat berjalan menuju penyucian jiwa itu dengan melalui peringkat-peringkat nafs tersebut.
Jenis dan peringkat jiwa/nafs tersebut adalah sebagai berikut:

1. An-Nafsul Ammarah bis-Su’. Allah SWT berfirman:

 

“….kerana sesungguhnya nafsu itu selalu menyuruh kepada kejahatan.” (QS.Yusuf : 53).
An-Nafsul Ammarah bis-Su’ adalah jiwa (nafs) yang selalu menyuruh kepada kejahatan, jiwanya menjauhi pertentangan terhadap kemaksiatan, tunduk dan taat kepada kehendak hawa nafsu dan godaan-godaan syaitan.

2. An-Nafsul Lawwamah. Allah SWT berfirman:

 

“Dan aku bersumpah dengan jiwa yang sangat menyesali (dirinya sendiri).”
(QS.Al-Qiyamah : 2).
An-Nafsul Lawwamah adalah jiwa (nafs) yang menyesali dirinya. Kerananya nafs itu mencerca pemiliknya ketika dia menyedari dirinya masih melakukan kelalaian dalam pengabdiannya kepada Allah SWT

3. An-Nafsul Muthma’innah. Allah SWT berfirman:

 

 

“Hai jiwa yang tenteram, kembalilah kepada Tuhanmu dengan hati yang puas lagi diredhaiNya. Maka masuklah ke dalam golongan hamba-hambaKu, dan masuklah ke dalam syurgaKu.”(QS.Al-Fajr : 27-30).

An-Nafsul-Muthma’innah adalah jiwa (nafs) yang tenteram/tenang, jiwa yang suci, penuh ketundukan, kepatuhan, dan ketaatan hanya kepada Allah semata, hawa nafsu sudah tidak bisa mengusik/mengajaknya lagi kepada kemaksiatan.
Titik tolak proses menuju penyucian jiwa adalah berawal dari membenci dan memerangi terhadap berbagai hawa nafsu yang akan membinasakan diri (mujahadatun-nafs).

D. Rukun-Rukun (Utama) bagi Mujahadatun-Nafs.

Allah SWT berfirman:

“Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keredhaan) Kami, benar-benar akan Kami tunjukkan jalan-jalan Kami.” (QS.Al-Ankabut : 69).

Ayat tersebut merupakan suatu petunjuk bahwa jalan menuju penyucian jiwa dalam rangka mencapai redha Allah membutuhkan kesungguhan dan pengorbanan serta keikhlasan, dan atas usaha tersebut Allah akan menunjukkan jalannya. Adapun rukun-rukun Mujahadatun Nafs yang terdapat dalam nash Al-Quran dan As Sunnah antara lain adalah:

  1. 1. Uzlah (mengasingkan diri).

 

Uzlah di sini bukanlah bermaksud menjauhkan diri dari keramaian manusia, menyendiri di suatu tempat yang sepi atau memutuskan hubungan dengan keduniawian, kerana hal-hal tersebut bertentangan dengan tatacara kehidupan yang diatur oleh Islam, sedang Islam menyuruh untuk bergaul dengan baik, berkumpul dengan sehat, beramah-tamah atau bersahabat dengan mereka yang suka kepada kebaikan.

 
“Seorang mukmin yang bergaul dengan orang banyak dan sabar atas tindakan-tindakan mereka, lebih baik dari orang yang tidak bergaul dengan mereka dan tidak sabar atas tindakan-tindakannya yang menyakitkan.” (HR.Ahmad).

 

Uzlah di sini maksudnya adalah beruzlah dari kekufuran, kemunafikan, kefasikan, beruzlah dari orang kafir, dari orang munafik, dari orang fasik serta beruzlah dari tempat-tempat yang penuh dengan caci maki terhadap ayat-ayat Allah dan Sunnah Rasul. Allah SWT berfirman:

 

 

 
“Sesungguhnya telah ada suri tauladan yang baik bagimu pada Ibrahim dan orang-orang yang bersama dia, ketika mereka berkata kepada kaum mereka. Sesungguhnya kami berlepas diri dari kamu dan dari apa yang kamu sembah selain Allah, kami ingkari kekafiranmu, dan telah nyata antara kami dan kamu bermusuhan dan kebencian buat selama-lamanya sampai kamu beriman kepada Allah.” (QS.Mutahanah : 4)

 

 

 
“Dan apabila melihat orang-orang memperolok-olokkan ayat-ayat Kami, maka tinggalkanlah mereka sehingga mereka membicarakan pembicaraan yang lain. Dan jika syaitan menjadikan kamu lupa (akan larangan itu), maka janganlah kamu duduk bersama orang-orang yang zhalim itu sesudah teringat (akan larangan itu). (QS.Al-An’am : 68).

 

Jadi semua bentuk uzlah itu dilakukan terhadap kesesatan dan orang-orang yang sesat. Inilah kaidah umum bagi seorang muslim dalam persoalan uzlah dan pergaulan (khalthah). Dengan demikian kita mengetahui kapan uzlah itu mutlak wajib dalam untuk dilaksanakan.

2. Ash Shumtu (berdiam ).

Allah SWT berfirman:

 

 

“Tidak ada kebaikan pada kebanyakan bisikan-bisikan mereka, kecuali bisikan-bisikan dari orang yang menyuruh (manusia) memberi sedekah, atau berbuat ma’ruf, atau mengadakan perdamaian diantara manusia. Dan barang siapa berbuat demikian kerana mencari keredhaan Allah, maka kelak Kami memberi pahala yang besar. (QS.An-Nisa : 114).

Rasulullah SAW bersabda:
“Barang siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah bertutur kata yang baik atau diam.” (HR. Bukhari).

Lisan adalah pantulan dari diri kita. Memelihara lisan sesuai dengan ajaran Allah merupakan salah satu perkara terpenting bagi manusia. Bagaimana manusia memelihara lisan dari dosa dan banyak bercakap, menggunakannya untuk perkara-perkara yang baik semuanya itu memerlukan pengekangan diri atau hawa nafsu. Membiasakan diri untuk diam merupakan awal dari pembiasaan menimbang kata-kata sebelum dilontarkan.

Sesungguhnya berlebih-lebihan dalam pembicaraan merupakan salah satu faktor dari tertutupnya hati . Diam yang merupakan awal dari pengekangan lisan, namun pembicaraan itu wajib dilontarkan dalam rangka amar ma’ruf nahi munkar.
3. Al-ju’ (lapar)

Rasulullah SAW bersabda:

“Kalian wajib susah, kerana sesungguhnya susah itu merupakan kunci hati.” Mereka bertanya,”Bagaimana susah itu wahai Rasulullah?” Rasulullah menjawab, “Tundukkan hawa nafsu kalian dengan lapar dan jadikan ia dahaga!” (HR.Thabrani dengan sanad yang hasan).

Dari hadits ini kita melihat bagaimana lapar memungkinkan untuk menjadi ubat bagi jiwa dalam salah satu keadaan dan salah satu penyakitnya. Dalam hadits yang lain Rasulullah SAW        bersabda:
“Wahai pemuda, jika diantara kamu telah ada yang mampu untuk menikah, menikahlah! Sebab itu sangat baik untuk memelihara penglihatan dan kemaluan. Dan barang siapa yang belum mampu, hendaklah ia berpuasa sebab puasa itu menjaga nafsu syahwat.”
(HR. Bukhari).

Dari hadits ini diketahui bagaimana lapar menjadi obat bagi jiwa dalam beberapa kondisi. Dengan kedua hadits tersebut, kita mengetahui bahwa lapar menjadi ubat bagi sebagian keadaan jiwa. Makan sampai merasa kenyang adalah boleh dengan catatan seseorang tersebut tidak mengikuti semua kehendak hawa nafsunya, yang tidak boleh adalah makan kenyang terus-menerus, kerana hal itu akan mematikan hati. Oleh kerana itu Rasulullah SAW dalam sebuah haditsnya mengatakan:

“Makanan bagi manusia sekedar menegakkan tulang punggungnya. Kalau tidak, maka sepertiga untuk makanan, sepertiga lagi untuk minuman, dan sepertiga lagi untuk bernafas. (HR.Tirmidzi).

4. As-Saharu (Memecah syahwat)
Allah SWT berfirman:

“Sesungguhnya bangun di waktu malam adalah lebih tepat untuk khusyuk dan bacaan di waktu itu lebih berkesan.” (QS.Al-Muzzammil : 6).

Melakukan ibadah pada malam hari sangat berat bagi semua orang, kerana itulah Allah memberikan keutamaan dibanding dengan waktu-waktu yang lain. Ibadah pada malam hari memberi pengaruh terhadap kejernihan jiwa yang tidak didapati pada saat-saat yang lain.[3]

 

Bila disederhanakan, setidaknya ada tiga karakter atau ciri khas yang mesti melekat pada pribadi muslim.

1. Salimul Aqidah (Aqidah yang bersih). Salimul aqidah merupakan sesuatu

yang harus ada pada setiap muslim. Dengan aqidah yang bersih, seorang muslim akan memiliki ikatan yang kuat kepada Allah SWT. Dengan ikatan yang kuat itu dia tidak akan menyimpang dari jalan dan ketentuan-ketentuan-Nya.

Dengan kebersihan dan kemantapan aqidah, seorang muslim akan menyerahkan segala perbuatannya kepada Allah. “Sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidupku dan matiku, semua bagi Allah tuhan semesta alam” (QS. 6:162). Karena aqidah yang bersih merupakan sesuatu yang amat penting, maka pada masa awal da’wahnya kepada para sahabat di Mekkah, Rasulullah SAW mengutamakan pembinaan aqidah, iman dan tauhid.

2. Shahihul Ibadah (ibadah yang benar). Shahihul ibadah merupakan salah satu

perintah Rasulullah SAW yang penting. Dalam satu haditsnya, beliau bersabda: “Shalatlah kamu sebagaimana melihat aku shalat”. Dari ungkapan ini maka dapat disimpulkan bahwa dalam melaksanakan setiap peribadatan haruslah merujuk kepada sunnah Rasul SAW yang berarti tidak boleh ada unsur penambahan atau pengurangan.

3. Matinul Khuluq (akhlak yang kokoh). Matinul khuluq merupakan sikap dan

perilaku yang harus dimiliki oleh setiap muslim, baik dalam hubungannya kepada Allah SWT maupun dengan makhluk-makhluk-Nya. Dengan akhlak yang mulia, manusia akan bahagia dalam hidupnya, baik di dunia apalagi di akhirat.

Rasulullah SAW diutus untuk memperbaiki akhlak dan beliau sendiri telah mencontohkan kepada kita akhlaknya yang agung sehingga diabadikan oleh Allah SWT di dalam Al Qur’an.

Allah AWT berfirman yang artinya:

 

“Dan sesungguhnya kamu benar-benar memiliki akhlak yang agung” (QS. 68:4).[4]

E. Wasilah Tazkiyatun Nafs

Wasilah (sarana) untuk men-tazkiyah jiwa tidak boleh keluar dari patokan-patokan syar’i yang telah ditetapkan Allah dan rasulNya. Seluruh wasilah tazkiyatun nafs adalah beragam ibadah dan amal-amal shalih yang telah disyariatkan di dalam Al-Qur’an dan Sunnah. Kita dilarang membuat wasilah-wasilah baru dalam menyucikan jiwa ini yang me-nyimpang dari arahan kedua sumber hukum Islam

Sesungguhnya rangkaian ibadah yang diajarkan Allah dan RasulNya telah memuat asas-asas tazkiyatun nafs dengan sendirinya. Bahkan bisa dikatakan bahwa inti dari ibadah-ibadah seperti shalat, shaum, zakat, haji dan lain-lain itu tidak lain adalah aspek-aspek tazkiyah.

Shalat misalnya, bila dikerjakan secara khusyu’, ikhlas dan sesuai dengan syariat, niscaya akan menjadi pembersih jiwa, sebagaimana sabda Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam berikut:

Abu Hurairah radhiyallaahu anhu berkata: Saya telah mendengar Rasulullah n bersabda: “Bagaimanakah pendapat kamu kalau di muka pintu (rumah) salah satu dari kamu ada sebuah sungai, dan ia mandi daripadanya tiap hari lima kali, apakah masih ada tertinggal kotorannya? Jawab sahabat: Tidak. Sabda Nabi: “Maka demikianlah perumpamaan shalat lima waktu, Allah menghapus dengannya dosa-dosa”. (HR Al-Bukhari dan Muslim).

Dari hadits di atas nampak sekali bahwa misi utama penegakan shalat adalah menyangkut tazkiyatun nafs. Artinya, dengan shalat secara benar (sesuai sunnah), ikhlas dan khusyu’, jiwa akan menjadi bersih, yang digambarkan Rasulullah Shallallahu alaihi wa sallam seperti mandi di sungai lima kali. Sebuah perumpamaan atas terhapusnya kotoran-kotoran dosa dari jiwa. Secara demikian, bisa kita bayangkan kalau ibadah shalat ini ditambah dengan shalat-shalat sunnah. Tentu nilai kebersihan jiwa yang diraih lebih banyak lagi.

Demikian pula masalah shaum (puasa). Hakekat puasa yang paling dalam berada pada aspek tazkiyah. Sabda Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam: “Barangsiapa tidak meninggalkan perkataan dan perbuatan dusta maka Allah tidak butuh terhadap puasanya dari makan dan minum”. (HR Al-Bukhari, Ahmad dan lainnya).

Dalam hadits yang lain disebutkan:

“Adakalanya orang berpuasa, bagian dari puasanya (hanya) lapar dan dahaga”. (HR Ahmad).

Ini menunjukkan betapa soal-soal tazkiyatun nafs benar-benar mewarnai dalam ibadah puasa, sehingga tanpa membuat-buat syariat baru sesungguhnya apa yang datang dari syariat Rasulullah Shallallahu alaihi wasallam bila diresapi secara mendalam benar-benar telah mencukupi.

Hal yang sama dijumpai pada ibadah qurban. Esensi utama qurban adalah ketaqwaan kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala yang berarti soal pembersihan jiwa dan bukan terbatas pada daging dan darah qurban.

Dan firman Allah Subhanahu wa Ta’ala:

 

“Daging-daging dan darahnya itu, sekali-kali tidak dapat mencapai derajat (keridhaan) Allah, tetapi keaqwaan daripada kamulah yang dapat mencapainya”.(Al-Hajj: 37).

 

 

 

Kalau diteliti lagi masih banyak sekali ibadah dalam syariat Islam yang muara akhirnya adalah pembersihan jiwa. Dengan mengikuti apa yang diajarkan syariat, niscaya seorang muslim telah mendapatkan tazkiyatun nafs. Contohnya adalah para sahabat Rasulullah. Mereka adalah generasi yang paling dekat dengan zaman kenabian dan masih bersih pemahaman agamanya, karenanya mereka memiliki jiwa-jiwa yang suci lantaran ber-ittiba’ pada sunnah Rasul dan tanpa menciptakan cara-cara bid’ah dalam tazkiyatun nafs. Mereka mendapatkan kesucian jiwa tanpa harus menjadi seorang sufi yang hidup dengan syariat yang aneh-aneh dan njlimet (rumit).

Bagi seorang muslim, ia harus berupaya menggapai masalah tazkiyatun nafs dari serangkaian ibadah yang dikerjakannya. Artinya, ibadah yang dilakukan jangan hanya menjadi gerak-gerak fisik yang kosong dari ruh keimanan dan taqarrub kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala. Sebaliknya, ibadah apapun yang kita kerjakan hendaknya juga bernuansa pembersihan jiwa. Dengan cara seperti inilah, insya Allah kita bisa mencapai keberuntungan. [5]

Allah SWT berfirman:

 

“…sesungguhnya beruntunglah orang yang mensucikan jiwa itu, dan sesungguhnya merugilah orang yang mengotorinya.” (QS. Asy-Syam [91]: 9-10).

4. Tazkiyyatun Nafsi untuk mengenal penyakit zaman dan cara mengobatinya.

Salah satu penyakit zaman saat ini adalah hilangnya khusyu’, cinta dunia dan takut mati (wahn). Solusinya adalah melalui tarbiyyah Islamiyyah. Dimana dalam tarbiyah tersebut diberikan tadzkiir, ta’liim dan tazkiyyah.[6]

F. Manfaat Tazkiyatun Nafs

1. Menjadikan manusi menjadi lebih bersih imannya.

2. hilangnya penyakit hati

3. Membuat manusia lebih baik lagi kualitas ibadahnya

4. Lebih disukai Allah SWT, karena dengan manusia melakukan tazkiyatun nafs, manusia telah melakukan apa yang diserukan oleh Allah SWT

5. Menjadikan jiwa semakin tenang dan bahagia dalam menjalani hidup

6. Dengan penyucian jiwa akan lebih banyak lagi nilai-nilai dan pemikiran positif yang timbul dalam diri manusia itu dan kehidupan manusia.

7. Sejalan dengan kualitas jiwa manusia yang semakin baik, maka akan lebih mempererat ukhuwah islamiyah

One thought on “Bersih Diri Dalam Islam

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s