Kelor Sebagai Penjernih Air atau Koagulan Alami


 

Dunia ini tak selebar daun kelor itulah pribahasa yang sering kita dengar atau mungkin pernah kita ucapkan. Namun kita bukan membahas maksud dari pribahasa tersebut, yang akan kita bahas adalah salah satu manfaat tanaman kelor. Sesuai dengan judul diatas ternyata kelor bisa digunakan sebagai bahan penjernih air. Sebelum membahasnya kita kenali dulu apa dan bagaimana tanaman kelor itu. Mungkin anda pernah melihatnya atau anda memiliki tanaman ini disekitar pekarangan rumah atau di kebun.

}  Nama latin: Moringa oleifera

}  Sinonim: Moringa pterygosperma,Gaertn.

}  Nama Lokal :

            Kelor (Indonesia, Jawa, Sunda, Bali, Lampung), Kerol (Buru); Marangghi (Madura), Moltong (Flores), Kelo (Gorontalo); Keloro (Bugis),     Kawano (Sumba), Ongge (Bima); Hau fo (Timor).

Kelor (moringa oliefera) termasuk jenis tumbuhan perdu yang dapat memiliki ketingginan batang 7 -11 meter. Di jawa, Kelor sering dimanfaatkan sebagai tanaman pagar karena berkhasiat untuk obat-obatan. Pohon Kelor tidak terlalu besar. Batang kayunya getas (mudah patah) dan cabangnya jarang tetapi mempunyai akar yang kuat. Batang pokoknya berwarna kelabu. Daunnya berbentuk bulat telur dengan ukuran kecil-kecil bersusun majemuk dalam satu tangkai. Kelor dapat berkembang biak dengan baik pada daerah yang mempunyai ketinggian tanah 300-500 meter di atas permukaan laut. Bunganya berwarna putih kekuning kuningan dan tudung pelepah bunganya berwarna hijau. Bunga kelor keluar sepanjang tahun dengan aroma bau semerbak. Buah kelor berbentuk segi tiga memanjang yang disebut klentang (Jawa). Buahnya pula berbentuk kekacang panjang berwarna hijau dan keras serta berukuran 120 cm panjang. Sedang getahnya yang telah berubah warna menjadi coklat disebut blendok (Jawa).

Itulah sedikit membahas mengenai kelor sekarang kita bahas bagaimana kelor itu sebagai bahan penjernih air atau bahan penjernih air alternatif. Judul diatas disebut koagulan alami. Apa itu koagulan. Koagulasi/flokulasiadalah proses pengumpulan partikel-partikel halus yang tidak dapat diendapkan secara gravitasi, menjadi partikel yang lebih besar sehingga bisa diendapkan dengan jalan menambahkan bahan koagulasi (koagulan). Kegunaan koagulan/flokulasi adalah memudahkan partikel-partikel tersuspensi yang sangat lembut dan bahan-bahan koloidal di dalam air menjadi agregat/jonjot (proses sebelum penggumpalan) dan membentuk flok, sehingga dapat dipisahkan dengan proses pengendapan dan dapat juga berfungsi menghilangkan beberapa jenis organisme dalam air.

Penelitian dari The Environmental Engineering Group di Universitas Leicester, Inggris, telah lama mempelajari potensi penggunaan berbagai koagulan alami dalam proses pengolahan air skala kecil, menengah, dan besar.Penelitian mereka dipusatkan terhadap potensi koagulan dari tepung biji tanaman Moringa oleifera. Tanaman tersebut banyak tumbuh di India bagian utara, tetapi sekarang sudah menyebar ke mana-mana ke seluruh kawasan tropis, termasuk Indonesia. Di Indonesia tanaman tersebut dikenal sebagai tanaman kelor dengan daun yang kecil-kecil.

PROSES PENJERNIHAN AIR DENGAN KELOR

langkah-langkah dalam penggunaan kelor sebagai penjernih air adalah sebagai berikut :

  1. Biji kelor dibiarkan sampai matang atau tua di pohon, Biji kelor dipilih yang sudah tua dan kering di pohon (kadar air 10%).

  2. Biji tak berkulit tersebut kemudian dihancurkan dan ditumbuk sampai halus sehingga dapat dihasilkan bubuk biji Moringa.

  3. Tambahkan sedikit air bersih ke dalam bubuk biji sehingga menjadi pasta.

  4. Letakkan pasta tersebut ke dalam botol yang bersih dan tambahkan ke dalamnya satu cup (200 ml) lagi air bersih, lalu kocok selama lima menit hingga campur sempurna.

  5. Saringlah larutan yang telah tercampur dengan koagulan biji kelor tersebut melalui kain kasa dan filtratnya dimasukkan ke dalam air 20 liter (jeriken) yang telah disiapkan sebelumnya, dan kemudian diaduk secara pelan-pelan selama 10-15 menit.

  6. Selama pengadukan, butiran biji yang telah dilarutkan akan mengikat dan menggumpalkan partikel-partikel padatan dalam air beserta mikroba dan kuman-kuman.

Mengapa  kelor dapat digunakan sebagai penjernih air karena mengandung senyawa myrosin, emulsin, asam gliserid, asam palmitat, asam stearat, asam oleat, lemak, minyak dan senyawa yang bersifat bakteriosidis.Menurut penelitian/pengalaman pusat litbang pemukiman departemen pekerjaan umum bahwa 6 biji kelor kering yang sudah digerus cukup sebagai koagulan dan desinfektan 1 liter air. Naah itulah sedikit informasi tentang kelor semoga bermanfaat. Saya edit dan sadur dari tugas kuliah saya pada mata kuliah kimia lingkungan

Biogas, Energi Alternatif dengan Bahan Baku Yang Melimpah


Foto-0168

ini merupakan penjelasan mengenai tentang biogas yang  merupakan bagian kajian teori dari laporan praktek saya..semoga bermanfaat..

  1. A.      Pengertian Biogas

     Biogas adalah campuran gas yang dihasilkan oleh bakteri metanogenik yang terjadi pada material-material yang dapat terurai secara alami dalam kondisi anaerobik.[1] Limbah peternakan merupakan salah satu sumber bahan yang dapat dimanfaatkan untuk menghasilkan biogas, sementara perkembangan atau pertumbuhan industri peternakan menimbulkan masalah bagi lingkungan, karena menumpuknya limbah peternakan. Proses pencernaan anaerobik, yang merupakan dasar dari reaktor biogas yaitu proses pemecahan bahan organik oleh aktivitas bakteri metanogenik dan bakteri asidogenik pada kondisi tanpa udara. Bakteri ini secara alami terdapat dalam limbah yang mengandung bahan organik, seperti kotoran binatang, manusia, dan sampah organik rumah tangga.[2]

  1. B.       Mikroorganisme Dalam Fermentasi Biogas      

Mikroorganisme yang berperan adalah Bakteri Metanogen. Bakteri metanogen yang terlibat dalam fermentasi biogas beragam macamnya. Dari taksonominya metanogen termasuk kedalam euryarchaoeta yang terbagi ke dalam 3 kelas yang terdiri dari 25 genus.

Dalam sistem fermentasi biogas. Non-metanogen dan metanogen biasanya hidup berdampingan. Bakteri ini bisa bermanfaat atau menghambat satu sama lain. Sehingga keseimbangan struktur kelompok keduanya  dapat dipertahankan. Non metanogen dapat menghasilkan substrat untuk tumbuh dan menghasilkan metan dari metanogen, Menjaga potensi oksidasi-reduksi  metanogen, Menghapus zat racun yang mungkin dapat menghambat methanogen dan menghilangkan hambatan  timbal balik bagi metanogen. Sementara non-metanogen dan metanogen bersama sama memlihara pH selama fermentasi biogas.[3]

Bakteri anaerob mengkonsumsi karbon sekitar 30 kali lebih cepat dibanding nitrogen. Hubungan antara jumlah karbon dan nitrogen dinyatakan dengan rasio karbon/nitrogen (C/N), rasio optimum untuk digester anaerobik berkisar 20 – 30. Jika C/N terlalu tinggi, nitrogen akan dikonsumsi dengan cepat oleh bakteri metanogen untuk memenuhi kebutuhan pertumbuhannya dan hanya sedikit yang bereaksi dengan karbon akibatnya gas yang dihasilnya menjadi rendah. Sebaliknya jika C/N rendah, nitrogen akan dibebaskan dan berakumulasi dalam bentuk amonia (NH4) yang dapat meningkatkan pH. Jika pH lebih tinggi dari 8,5 akan menunjukkan pengaruh negatif pada populasi bakteri metanogen . Kotoran ternak sapi mempunyai rasio C/N sekitar 24. Hijauan seperti jerami atau serbuk gergaji mengandung persentase karbon yang jauh lebih tinggi, dan bahan dapat dicampur untuk mendapatkan rasio C/N yang diinginkan.

Rasio C/N beberapa bahan yang umum digunakan sebagai bahan baku biogas disajikan pada Tabel Berikut Ini.[4]

                         Bahan                        

Rasio C/N

Kotoran Bebek

8

Kotoran Manusia

8

Kotoran Ayam

10

Kotoran Kambing

12

Kotoran Babi

18

Kotoran Gajah

43

Jerami Padi

70

Jerami Gandum

90

Eceng Gondok

25

Batang Jagung

60

Kotoran Sapi

24

Tabel 2.1 Rasio Karbon dan Nitrogen (C/N ) dari beberapa bahan.

1. Kondisi agar bakteri metanogen optimal        

     a. Suhu : suhu optimal methanogen tumbuh dan menghasilkan gas metan adalah berkisar 25-30°C.

b. Trace metal elemen: penambahan trace metal elemen atau bahan dengan kadar yang sangat kecil yang dapat mengubah jenis dominan dari metanogen. Dan meningkatkan keasaman dan metanogen rentan terhadap racun.

c. pH: pH optimal bagi pertumbuhan bakteri metanogen berkisar 6,8-7,5. pH medium mempengaruhi permukaan sel, ionisasi dari senyawa organik dan mikroba yang tahan terhadap suhu yang tinggi. pH juga berpengarug signifikan terhadap aktivitas enzim.

d. ORP : ORP adalah indikator sistem anaerob yang lebih akurat  daripada DO. ORP optimal untuk metanogen berkisar dibawah 350 mV. Lingkungan anareob ditandai oleh rendahnya ORP.

e. Garam: bakteri pengurang sulfat akan  bersaing dengan methanogen untuk substrat, selain itu sulfida yang dihasilkan memiliki efek toksik yang signifikan pada methanogen.[5]

 

 

 

  1. C.      Komposisi Biogas

Biogas yang dibuat dari kotoran ternak sapi mengandung gas metana (CH4) sebesar 55 – 65 %, gas karbon dioksida (CO2) sebesar 30 – 35 % dan sedikit gas hidrogen (H2), gas nitrogen (N2) dan sisanya gas – gas lain dalam jumlah yang sangat sedikit (Oksigen, Hidrogen Sulfida, Karbon Monoksida). Panas yang dihasilkan sebesar 600 BTU/cuft. Sedangkan, biogas yang dibuat dari gas alam mengandung gas metana (CH4) sebesar 80 % dengan panas sebesar 1000 BTU/cuft. Kandungan gas metana (CH4) dari biogas dapat ditingkatkan dengan memisahkan gas karbon dioksida (CO2) dan gas hidrogen sulfida (H2S) yang bersifat korosif . Setiap 1 m3 biogas setara dengan 0,62 liter minyak tanah, 0,46 kg LPG, 3,5 kg kayu bakar.[6]

Menurut Wellinger and Lindenberg , komposisi biogas yang dihasilkan sangat tergantung pada jenis bahan baku yang digunakan. Namun demikian, komposisi biogas yang utama adalah gas metana (CH4) dan gas karbon dioksida (CO2) dengan sedikit hidrogen sulfida (H2S). Komponen lainnya yang ditemukan dalam kisaran konsentrasi kecil (trace element) antara lain senyawa sulfur organik, senyawa hidrokarbon terhalogenasi (Halogenated hydrocarbons), gas hidrogen (H2), gas nitrogen (N2), gas karbon monoksida (CO) dan gas oksigen (O2).[7]

1.  Karakteristik Kandungan Biogas

     a. Metana

Sifat fisik metana sebagai berikut :

Rumus Molekul : CH4

Berat Molekul   : 16,04 gr/mol

Densitas            : 655.6 μg cm−3

Penampilan        : gas tidak berwarna

Titik Didih        : -161,4 °C

Titik Leleh         : -182,6 °C           

Sifat kimia metana  sebagai berikut:

Reaksi pembakaran sempurna gas metana menghasilkan gas karbondioksida dan uap air.[8]

CH4 + O2  → CO2 + H2O        

Reaksi halogenasi gas metana menghasilkan :

CH4 + X2  → CH3X + HX

b. Karbondioksida   

Sifat fisik karbondioksida sebagai berikut :

Rumus molekul       : CO2

Massa molar            : 44,01 g/mol

Penampilan gas       : tidak berwarna

Densitas                  : 1.600 g/L (padat) 1,98 g/L (gas)

Titik lebur               : −57 °C (216°K) (di bawah tekanan)

Titik didih               : −78 °C (195°K) (menyublim)

Sifat kimia Karbondioksida sebagai berikut :           

Karbon dioksida larut dalam air dan secara spontan membentuk H2CO3 (asam karbonat) dalam kesetimbangan dengan CO2.

c. Hidrogen                

Sifat fisik hidrogen sebagai berikut :

Massa Molar           : 1 gr/mol

Penampilan Gas      : Tidak Berwarna

Titik leleh                : -259,1 °C

Titik didih                : -252,7 °C

Densitas                  :  8,97 x 10-5 gram/ml (pada 1 atm dan 0°C)

Sifat Kimia Hidrogen diantaranya adalah sebagai berikut :

Hidrogen sangatlah larut dalam berbagai senyawa yang terdiri dari logam tanah (alkali tanah)   dan logam transisi dan dapat dilarutkan dalam logam kristal maupun logam amorf.[9]

d. Nitrogen

Sifat fisik Nitrogen sebagai berikut :

Berat molekul         : 28,02 gram/mol

Densitas                  : 1,25 x 10-3 gram/ml (pada 1 atm dan 0°C)

Titik didih               : -195,8 °C

Titik leleh                : -209,86 °C

Sifat kimia nitrogen sebagai berikut :

Merupakan senyawa inert (sukar bereaksi)

Merupakan senyawa dwiatomik[10]

  1. D.      Proses Fermentasi Biogas

Pembentukan biogas meliputi tiga tahap proses yaitu:

(a) Hidrolisis, pada tahap ini terjadi penguraian bahan-bahan organik mudah larut dan pencernaan bahan organik yang komplek menjadi sederhana, perubahan struktur bentuk polimer menjadi bentuk monomer;

Reaksi : (C6H10O5)n (s) + n H2O (l) → C6H12O6

(b) Pengasaman/Tahap Asidogenik, pada tahap pengasaman komponen monomer (gula sederhana) yang terbentuk pada tahap hidrolisis akan menjadi bahan makanan bagi bakteri pembentuk asam. Produk akhir dari perombakan gula-gula sederhana ini yaitu asam asetat, propionat, format, laktat, alkohol, dan sedikit butirat, gas karbondioksida, hidrogen dan amonia ; Pada tahap ini, bakteri asam menghasilkan asam asetat dalam suasana anaerob. Tahap ini berlangsung pada suhu 25° C di digester. Reaksi:

   a) n (C6H12O6) → 2n (C2H5OH) + 2n CO2(g) + kalor

   b) 2n (C2H5OH)(aq) + n CO2(g) → 2n (CH3COOH)(aq) + n CH4(g)

 (c) Metanogenik/Tahap Gasifikasi, pada tahap metanogenik terjadi proses pembentukan gas metan. Bakteri pereduksi sulfat juga terdapat dalam proses ini, yaitu mereduksi sulfat dan komponen sulfur lainnya menjadi hidrogen sulfida . Pada tahap ini, bakteri metana membentuk gas metana secara perlahan secara anaerob. Proses ini berlangsung selama 14 hari dengan suhu 25° C di dalam digester. Pada proses ini akan dihasilkan 70% CH4, 30 % CO2, sedikit H2 dan H2S.[11]

   Reaksi:

   2n (CH3COOH) → 2n CH4(g) + 2n CO2(g)

  1. E.       Teknologi Instalasi Biogas

Untuk memperoleh biogas dari bahan organik, diperlukan alat yaitu Digester Biogas /Biodigester, yang bekerja dengan prinsip menciptakan suatu tempat penampungan bahan organik pada kondisi anaerob (bebas oksigen) sehingga bahan organik tersebut dapat difermentasi oleh bakteri metanogen untuk menghasilkan biogas.

Ada beberpa jenis reaktor yang sering digunakan untuk menghasilkan biogas diantaranya adalah :

1. Tipe Fixed Dome Plant

Terdiri dari digester yang memliki penampung gas dibagian atas digester. Ketika gas mulai timbul, gas tersebut menekan lumpur sisa fermentasi (slurry) ke bak slurry. Jika pasokan kotoran ternak terus menerus, gas yang timbul akan terus menekan slurry hingga meluap keluar dari bak slurry. Gas yang timbul digunakan/dikeluarkan lewat pipa gas yang diberi katup/kran.

2. Tipe Floating Drum Plant

Terdiri dari satu digester dan penampung gas yang bisa bergerak. Penampung gas ini akan bergerak keatas ketika gas bertambah dan turun lagi ketika gas berkurang, seiring dengan penggunaan dan produksi gasnya

3. Tipe Baloon Plant                                                                                       

Konstruksi sederhana, terbuat dari plastik yang pada ujung-ujungnya dipasang pipa masuk untuk kotoran ternak dan pipa keluar peluapan slurry. Sedangkan pada bagian atas dipasang pipa keluar gas.

Secara umum digester biogas terdiri dari beberapa bagian, yaitu:

1. Bak penampung kotoran ternak                        

dengan pipa masukan kotoran ternak

2. Digester

3. Bak penampung lumpur sisa fermentasi (slurry)

4. Bak penampung gas (gas holder)

5. Pipa biogas keluar

6. Penutup digester dengan penahan gas (gas sealed)

7. Lumpur aktif biogas

8. Pipa keluar slurry[12]

 

 

 

 

 

 

 Gambar 2.1 Reaktor Tipe Fixed Dome Plant

 

  1. F.       Kelebihan-kelebihan biogas

Kelebihan-kelebihan biogas adalah sebagai berikut :

Teknologi biogas berkontribusi untuk mengontrol polusi lingkungan dan mendaur ulang dali limbah dan mengurngi ketergantungan pada impor bahan bakar fosil. Juga mengurangi penggunaan hutan sebagai sumber energi rumah tangga dengan begitu dapat mengurangi penebangan hutan dan permasalahan lainnya. Tidak seperti bentuk energi terbarukan yang lainnya sistem prouksi biogas relatif mudah dan simple dan dapat digunakan pada skala kecil dan besar pada daerah perkotaan atau pedesaan. Biogas juga dapat digunakan untuk pemansan yaitu memasak, menghasilkan listrik dan residu dari biogas ini dapat digunakan untuk pertanian sebagai pupuk sekunder.

1. Gas yang dihasilkan dapat mengganti fuel seperti LPG atau natural gas, dimana 1,7 m3 biogas setara dengan 1 liter gasoline. Pupuk sapi yang dihasilkan dari satu sapi dalam satu tahun dapat dikonversi menjadi gas metana yang setara dengan lebih dari 200 liter gasoline.

2. Gas yang dihasilkan dapat digunakan untuk sumber energi menyalakan lampu, dimana 1 m3 biogas dapat digunakan untuk menyalakan lampu 60 Watt selama 7 jam. Hal ini berarti bahwa 1m3 biogas menghasilkan energi = 60 W x 7 jam = 420 Wh = 0,42 kWh

3. Limbah digester biogas, baik yang padat maupun cair dapat dimanfaatkan sebagai pupuk organik. Limbah padat digunakan untuk pupuk. Pupuk yang dihasilkan baik karena mengandung unsur hara yang tinggi selain itu dapat memperbaiki fungsi struktur tanah. Limbah cair digunakan untuk menyiram tanaman karena mengandung unsur hara yang dibutuhkan tanaman.

  1. G.      Problem Biogas

Problem yang muncul ketika biogas baru diproduksi adalah komposisi biogas itu sendiri karena biogas mengandung beberapa gas lain yang tidak menguntungkan. Untuk mendapatkan hasil pembakaran yang optimal perlu dilakukan proses pemurnian/penyaringan. Beberapa gas yang tidak menguntungkan antara lain :

  1. Gas Karbon dioksida (CO2)

Gas CO2 dalam biogas perlu dihilangkan karena gas tersebut dapat mengurangi nilai kalor pembakaran biogas. Selain itu, kandungan gas karbon dioksida (CO2) dalam biogas cukup besar yaitu sekitar 30 – 45 % sehingga nilai kalor pembakaran biogas akan berkurang cukup besar. Nilai kalor pembakaran gas metana murni pada tekanan 1 atm dan temperatur 15,5 °C yaitu 9100 Kkal /m3 (12.740 Kkal/kg). Sedangkan nilai kalor pembakaran biogas sekitar 4.800 – 6.900 Kkal/m3 (6.720 – 9660 Kkal/kg)

  1. Gas Hidrogen Sulfida (H2S)

Menurut Lastella dkk. (2002), konsentrasi gas ini dalam biogas relatif kecil ± 0,1 – 2%. Gas ini bersifat korosif sehingga konsentrasi yang besar dalam biogas dapat menyebabkan korosi pada ruang pembakaran. Selain itu, gas ini mempunyai bau yang tidak sedap, bersifat racun dan hasil pembakarannya menghasilkan gas sulfur dioksida (SO2).[13]

  1. H.      Proses Absorbsi Karbondioksida (CO2)

Absorbsi merupakan salah satu proses pemisahan dengan mengontakan campuran gas dengan  cairan sebagai penyerapnya, penyerap tertentu akan menyerap satu atau lebih pada komponen gas. Absorbsi dapat berlangsung dalam dua macam proses, yaitu absorbsi fisik dan absorbsi kimia. Absorbsi fisik yaitu absorbsi dimana gas terlarut dalam cairan menyerap tanpa disertai rekasi kimia. Contoh absorbsi ini adalah absorbsi gas H2S dengan air, metanol atau propilen. Absorbsi kimia yaitu absorbsi dimana gas terlarut dalam larutan penyerap disertai reaksi kimia.[14] Proses absorpsi kimia merupakan proses absorpsi gas menggunakan pelarut dengan reaktan yang dapat bereaksi dengan komponen gas yang terlarut. Penggunaan pelarut kimia ini dimaksudkan untuk meningkatkan pelarut dalam menyerap gas CO2. Proses ini secara prinsip melibatkan dua fenomena yaitu absorpsi secara fisik dan reaksi kimia. Adanya reaksi kimia inilah yang dapat meningkatkan kemampuan pelarut dalam menyerap gas.[15] Metode ini dapat menentukan perbandingan komponen-komponen dalam campuran gas. Pada metode absorpsi ini, gas diolah atau direaksikan dengan sederet absorben pada suhu dan tekanan yang konstan. Perbedaan volume gas sebelum dan sesudah direaksikan dengan pereaksi penyerap menunjukkan jumlah gas yang diabsorpsi, dan jumlah ini biasanya dinyatakan dalam presentasi atas dasar volume. Contoh absorbsi ini dapat dilihat pada absorbsi gas karbondioksida dengan larutan Na2CO3, NaOH, K2CO3 dan lain sebagainya. Misalnya proses absorpsi atau pemisahan gas karbondioksida oleh NaOH dapat dilihat pada reaksi berikut ini :

CO2 + 2NaOH → Na2CO3 + H2O

Absorbsi di atas merupakan reaksi yang terjadi secara kimia, dikarenakan terjadinya reaksi kimia secara langsung antara CO2 dengan larutan NaOH. Reaksi dianggap merupakan reaksi satu arah dan berorde 2. Pada proses ini, kondisi pada fase gas serupa dengan absorbsi fisik. Tetapi pada fase cair, selain terdapat lapisan tipis cairan juga terdapat zona reaksi. Reaksi kimia yang terjadi adalah ineversible, dimana CO2 pada fase gas akan diabsorbsi oleh larutan NaOH pada fase cair. Pada saat gas mendekati interfase cair, gas CO2 akan larut dan langsung bereaksi dengan larutan NaOH.[16] Dalam menganalisis gas metan metode absorbsi termasuk ke dalam analisis volumetri gas. Pada analisis gas volumetri gas dapat melibatkan metode yang berkaitan dengan reaksi kimia, dan dari volume gas dapat dihitung beratnya atau kadarnya.[17]

Perekasi – pereaksi yang umum digunakan dapat dilihat pada tabel 2.2

Gas

Pereaksi/Absorben

Karbon dioksida

Natrium hidroksida

Kalium hidroksida

Hidrokarbon tak jenuh

Air Brom

Asam Sulfat Berasap

Oksigen

Larutan pirogalol alkalis

Fosfor kuning

Karbon Monoksida

Kupro klorida amoniakal

 

Hidrogen

Sepon paladium (Sponge paladium)

Larutan paladium klorida

Larutan paladium koloidal

Tabel 2.2 Beberapa Absorben dalam Analsisi Biogas


[1] Kaharudin Dan Farida Sukmawati. (2010). Petunjuk Praktis Manajemen Umum Limbah                           Ternak Untuk Kompos Dan Biogas (Mataram: Balai Pengkajian Teknologi

           Peternakan Nusa Tenggara Barat (BPTP-NTB), hal. 13.

       [2] Tuti Haryati. 2006.“Limbah Peternakan yang menjadi Sumber Energi Alternatif”. Balai                          Penelitian Ternak Bogor, 16, ( 3).

                [3] Ai-jie Wang, Wen-wei Li dan Han Qing Yu. 2011. Advances in biogas technology.                                    Advances in Biochemical Engineering Biotechnology, 128, pp 119-141.

                [4] Tuti Haryati. 2006. Limbah Peternakan yang menjadi Sumber Energi Alternatif. Bogor:                                          Balai Penelitian Ternak

 

                [5] Ai-jie Wang, Wen-wei Li dan Han Qing Yu. 2011. Advances in biogas technology.                                   Journal Advances in Biochemical Engineering Biotechnology, 128, pp 119-141.

[6] Novembri cucu, dan Oki Putri, 2010, Skripsi Pengaruh Pemanasan Membran,                                               Perbedaan Tekanan Dan Waktu Permeasi Pada Pemisahan Co2/CH4 Untuk                                   Pemurnian Biogas Menggunakan Membran Polyimide Dan Membran                                                           CampuranPolyimide-Zeolit.

[7] Wellinger, A. and A. Lindeberg.  2000.  Biogas Upgrading and Utilization – IEA                                          Bioenergy. Task 24. International Energy Association, France. pp.20.

[8] Fessenden, Ralp J. and J. S. Fessenden. 1989. Kimia Organik Jilid 1 Edisi                                                     Ke-3. Jakarta : Erlangga.  pp. 102 – 103

[9] Novembri cucu, dan Oki Putri, 2010, Skripsi Pengaruh Pemanasan Membran,                                      Perbedaan Tekanan Dan Waktu Permeasi Pada Pemisahan Co2/CH4 Untuk                                           Pemurnian Biogas Menggunakan Membran Polyimide Dan Membran                                  Campuran Polyimide-Zeolit.

 

[10] Fessenden, Ralp J. and J. S. Fessenden. 1989. Kimia Organik Jilid 1 Edisi                                                        Ke-3. Jakarta : Erlangga.  pp. 102 – 103

 

                [11] Tuti Haryati. 2006. Limbah Peternakan yang menjadi Sumber Energi Alternatif Balai                              Penelitian Ternak. Wartazoa, 16(3).

 

                [12] Sartono Putro. 2007. Penerapan Instalasi Sederhana Pengolahan Kotoran Sapi                                       Menjadi Energi Biogas Di Desa Sugihan Kecamatan Bendosari. Warta, 10(2).

[13] Novembri cucu, dan Oki Putri, 2010, Skripsi Pengaruh Pemanasan Membran,                                             Perbedaan Tekanan Dan Waktu Permeasi Pada Pemisahan Co2/CH4 Untuk                                          Pemurnian Biogas Menggunakan Membran Polyimide Dan Membran                                                                CampuranPolyimide-Zeolit.

[14] I Made Mara. 2012. Analisis Penyerapan Karbon dioksida. Jurnal Dinamika Teknik                                   Mesin, 2(1).

[15] Rizki Pratama putri, Yuli Cahyani. Model Absorpsi Gas CO2 Dalam Larutan K2CO3                                      Dengan Promotor MDEA Pada PackedColumn.

[16] I Made Mara. 2012. Analisis Penyerapan Karbon dioksida. Jurnal Dinamika Teknik                                   Mesin, 2(1).

[17] Tim Kimia Analitik. 2010. Dasar- Dasar Kimia Analitik, Jurusan Pendidikan Kimia                                       Universitas Pendidikan Indonesia. hal. 168

Kidal Is My Lifestyle



Aku adalah seoarang anak yang unik. Tidak tau kenapa sangat berbeda sekali dengan yang lain. Punya sesuatu yang berbeda dengan saudara dan kedua orang tua. Teman-teman di sekolah, melihatku dengan sesuatu yang aneh juga. Dan sering bertanya itu kenapa pake kiri, baik main voly, lempar lembing pada saat berolah raga. Begitupula di kampus pada saat praktikum titrasi, melakukan pembakaran, membawa atau memotong sesuatu. Temanku juga bertanya hal yang sama. Banyak teman dan orang lain menganggap bahwa itu terjadi karena kebiasaan Karena saya orang sunda sering disebut dengan dusun jika kita melakukan sesuatu hal pakai kiri. Anda pasti bisa menebak sebutan apa yang jika selalu pakai kiri yaitu orang kidal.. Ya tangan kiri merupakan tangan yang selalu saya pakai pada berbagai macam aktivitas. dulu waktu kecil semua aktivitas saya kerjakan dengan tangan kiri, baik menulis dan yang lainnya. Namun seiring bertambahnya waktu ada beberapa hal yang saya kerjakan pakai tangan kanan. karena paksaan orang tua dan juga karena suatu hal yang bersifat prinsipil. Sekarang menulis saya menggunakan tangan kanan itupun karena kebiasaan namun dulu sewaktu kecil dan mulai masuk bangku sekolah dasar saya sudah menulis dengan tangan kiri tapi itu hanya sampai kelas tiga karena orangtua begitu terus berusaha merubah kebiasaan saya untuk memakai tangan kanan. begitupula dengan makan namun untuk makan ini sampai sekarangpun saya kuliah jika memakai sendok masih sangat sering menggunakan tangan kiri jika di rumah walaupun dihadapan kedua orang tua heheeee (jangan ditiru). Namun dimuka umum saya tidak berani. Pernah suatu hari di kampus ketika di panggil nama saya. Lalu saya mengangkat tangan dengan tangan kiri dan akhirnya dosen tersebut mengomentari karena saya tidak sopan. Tapi teman-teman membantu saya menjelaskan bahwa itu adalah refleks dan memang karena saya kidal. Selain itu ketika disuruh orang tua ayah/ibu untuk memotong sesuatu, ketika memotong mereka sering berkata, aduh udah jangan diterusin biar bapak/ibu saja yang nerusin ngeri ngeliatnya. Itulah sekelumit tentang saya. Menurut Scientific American, ada sekitar 15 persen orang yang aktif menggunakan tangan kiri atau kidal. Alasan sebagian orang kidal tidak sepenuhnya jelas, tergantung pada campuran faktor genetik dan lingkungan. Ini informasi mengenai orang kidal yang saya ambil dari health.detik.com :

Sebuah penelitian yang diterbitkan dalam jurnal Neuropsychology menunjukkan bahwa orang kidal lebih cepat memproses beberapa rangsangan ketimbang orang yang menggunakan tangan kanan. Hal ini juga membuat orang kidal lebih kreatif.
Penelitian yang dilakukan di Australian National University (ANU) tampaknya mendukung studi sebelumnya yang menunjukkan bahwa kebiasaan menggunakan tangan kanan atau kiri ditentukan sejak dalam rahim.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa orang kidal lebih cepat dan kreatif karena menggunakan kedua belahan otaknya, berbeda dengan orang yang terbiasa menggunakan tangan kanan yang hanya menggunakan otak kiri.
Kedua belahan otak sebenarnya hampir sama, dan sebagian besar untuk memproses informasi yang sama, dengan data lewat bolak-balik di antara keduanya terutama melalui jalur saraf utama.
Namun, tugas-tugas tertentu, seperti pengolahan bahasa, cenderung terjadi pada satu belahan saja. Bagi kebanyakan orang, pengolahan bahasa terjadi di bagian kiri.
Untuk orang kidal, tugas-tugas tersebut mungkin terjadi di kedua belahan otak.
Bidang keahlian lain adalah pengolahan data indra, biasanya data yang dikumpulkan di sisi kanan tubuh, seperti mata kanan, telinga kanan, dan lainnya, akan menuju ke belahan kiri untuk pemrosesan. Dan sebaliknya, data yang dikumpulkan di belahan kiri akan menuju belahan otak kanan.
Penelitian ini menunjukkan bahwa orang kidal yang terbiasa menulis dengan tangan kiri mungkin memiliki otak yang lebih kondusif untuk simultan atau rangsangan dan pengolahan di kedua bagian otak. Orang kidal lebih mudah menggunakan kedua belahan otak untuk mengelola rangsangan, sehingga keseluruhan proses dan waktu respon lebih cepat.
Ini juga bisa berarti bahwa ketika salah satu belahan otak mendapat kelebihan beban dan mulai melambat, belahan otak lain bisa lebih mudah memilih mengisi kekosongan itu.
Para pakar juga berteori bahwa orang kidal memiliki mental lebih baik saat di usia tua dan saat proses otak secara keseluruhan mulai melambat.
Dan seperti yang dikutip dari Ehow, Senin (24/5/2010), orang kidal cenderung lebih atletis, memiliki kesadaran yang lebih spasial dan berpikir lebih cepat.
Menurut sebuah studi yang dilakukan oleh Dr Alan Searleman dari St Lawrence University di New York, menunjukkan bahwa orang kidal mampu mendukung sisi kiri tubuhnya untuk semua kegiatan fisik.
Orang kidal juga dua kali lebih terampil dalam pemecahan masalah dan memiliki IQ lebih tinggi dari orang yang aktif dengan tangan kanan.
Beberapa orang kidal terkenal seperti Presiden George HW Bush, Bill Clinton dan Barack Obama, Pangeran Charles dan Pangeran William dari Inggris. Musisi Jimi Hendrix, Kurt Cobain dan Paul McCartney. Ilmuwan Isaac Newton, Marie Curie dan Benjamin Franklin. Seniman Michelangelo dan Leonardo Da Vinci, dan tokoh-tokoh sejarah Alexander Agung, Charlemagne dan Julius Caesar.

Nata De Coco Salah Satu Sumber Alternatif Penyediaan Selulosa Dan Sebagai Makanan Diet


Nata de coco berasal dari Filipina, karena Filipina termasuk negara penghasil kelapa yang cukup besar di dunia dan paling banyak mendapatkan devisa dari produk kelapa. Salah satu produknya yaitu Nata de coco.

Nata de coco adalah makanan yang banyak mengandung serat, mengandung selulosa kadar tinggi yang bermanfaat bagi kesehatan dalam membantu proses pencernaan makanan yang terjadi dalam usus halus dan penyerapan air dalam usus besar. Nata de coco atau sering disebut juga sebagai selulosa bakteri yang merupakan salah satu sumber alternatif bagi penyediaan selulosa dimana bahan ini lebih mudah dibuat, mudah diolah dan mudah diperoleh dengan biaya produksi yang murah. Dengan kandungan kalori yang rendah pada Nata de coco dan sebagai sumber makanan rendah energi menjadikannya sebagai makanan yang tepat untuk keperluan diet.  

Dalam air kelapa terdapat berbagai nutrisi yang bisa dimanfaatkan bakteri penghasil Nata de Coco. Nutrisi yang terkandung dalam air kelapa antara lain : gula sukrosa 1,28%, sumber mineral yang beragam antara lain Mg2+ 3,54 gr/l, serta adanya faktor pendukung pertumbuhan (growth promoting factor) merupakan senyawa yang mampu meningkatkan pertumbuhan bakteri penghasil nata (Acetobacter xylinum).

Pembentukan nata de coco terjadi karena proses pengambilan glukosa dari larutan gula atau gula dalam air kelapa oleh sel–sel Acetobacter xylinum (Menurut Astrawan, M .2004). Bakteri Acetobacter xylinum akan membentuk nata jika ditumbuhkan dalam air kelapa yang sudah diperkaya dengan karbon (C) dan nitrogen (N) melalui suatu proses yang dikontrol. Dalam kondisi demikian, bakteri tersebut akan menghasilkan enzim ekstraseluler yang dapat menyusun atau mempolimerisasi zat gula, dalam hal ini glukosa menjadi ribuan rantai serat atau selulosa. Dari jutaan jasad renik yang tumbuh dalam air kelapa tersebut, akan dihasilkan jutaan lembar benang selulosa yang akhirnya nampak padat berwarna putih hingga transparan yang disebut dengan nata.

Proses pembuatan nata de coco sangat dipengaruhi oleh berbagai faktor. Hal ini berhubungan dengan faktor-faktor yang mempengaruhi Acetobakter xylinum sebagai bakteri untuk proses fermentasi air kelapa. Pertumbuhan Acetobakter xylinum tersebut dipengaruhi oleh oksigen, pH, suhu dan nutrisi. Faktor-faktor inilah yang harus diperhatikan untuk memperoleh nata de coco yang berkualitas baik, di samping itu dalam pembuatannya sangat memerlukan ketelitian dan sterilitas alat.

created by nesih susilawati

“Fruitghurt” Yoghurt Dari Buah Yang Penuh Gizi


Minuman yang satu ini memang sudah tidak asing lagi di telinga kita khususnya pada masyarakat urban, mungkin setiap hari anda meminumnya karena rasanya yang asam, manis campur menjadi satu, dan juga menyegarkan yaitu yoghurt. Di Indonesia minuman yang berasa sedikit asam ini memang baru populer jika dibandingkan dengan kawasan eropa, Amerika dan Timur tengah yang sudah sangat populer dan menjadi minuman sehari-hari. Sebenarnya yoghurt merupakan minuman tradisional di daerah Balkan dan timur tengah yang menjadi minuman pokok sehari-hari masyarakat disana. Yoghurt merupakan produk hasil fermentasi susu yang bentuknya seperti es krim dan rasanya sedikit asam. Biasanya kita mengenal  dan menemukan banyak yoghurt  hanya terbuat dari susu segar atau susu skim. Tetapi dengan berjalannya waktu yoghurt juga dapat dibuat dengan bahan baku  kacang kedelai yang disebut soyghurt, yoghurt berbahan baku santan kelapa disebut miyoghurt, dan yoghurt yang berbahan baku buah-buahan  disebut dengan fruitghurt.

            Salah satu jenis yoghurt yang memang tergolong baru dan masih jarang kita dengar adalah “fruitghurt”. Fruitghurt merupakan produk hasil fermentasi dari sari buah-buahan baik itu buah melon, mangga, anggur, pisang, dll. Atau campuran dari berbagai sari buah-buahan. Bahkan sekarang ini fruitghurt sudah dikembangkan dengan bahan baku dari limbah buah-buahan yaitu kulit buah. Prinsip pembuatan fruitghurt yaitu dengan memfermentasi sari buah  dengan menggunakan bakteri Lactobacillus Bulgaricus dan Streptococcus Thermophillus. Tanpa kedua bakteri ini fruitghurt tidak akan terbentuk. Dan kedua bakteri tersebut disebut dengan starter yaitu mikroba pembentuk fruitghurt. Starter yang paling baik ialah campuran dari kedua bakteri tersebut dengan perbandingan 1: 1. Karena jika terpisah, kedua bakteri ini perkembangannya akan lambat sehingga dapat mempengaruhi dalam pembuataan fruitghurt. Karena kedua bakteri inilah  yang berperan dalam memberikan aroma dan cita rasa pada fruitghurt. Dalam kerjanya Lactobacillus Bulgaricus akan membentuk aroma pada fruitghurt dan Streptoccocus Thermophillus berperan dalam pembentukan cita rasa pada fruitghurt. Fermentasi kedua bakteri tersebut akan menghasilkan asam laktat. Fruitghurt yang bagus memiliki asam laktat sekitar 0,85-0,89% dan derajat keasamaan(pH) yang dihasilkan adalah sekitar 4,5. Asam laktat ini berguna untuk memperlancar proses pencernaan kita

             Selain adanya asam laktat, bakteri Lactobacillus Bulgaricus pada fruitghrt akan menghasilkan anti mikroba yaitu bulgarican yang efektif untuk menghambat bakteri jahat(bakteri patogen) dalam tubuh dan juga dapat menghambat pembentukan kolestrol dalam darah, tidak hanya itu fruithghurt juga mengandung zat antioksidan(Vitamin C) sehingga dapat meningkatkan daya tahan tubuh kita dan dapat melindungi molekul penting, seperti protein, lipid (lemak), karbohidrat, dan asam nukleat (DNA dan RNA) dari kerusakan yang diakibatkan radikal bebas, racun, ataupun polusi. Dan nutrisi yang terdapat pada fruitghurt cukup tinggi. Nutrisi yang terdapat dalam fruitghurt per 100 gram buah yaitu ; Energi  426 kj , Protein  4.37 g , Total lemak 1.08 g,  Karbohidrat  19.05 g,  Kalsium  151.9 mg, Besi 0.07 mg , Magnesium 14.57 mg, kalium 194.5 mg , Vitamin C 0.66 mg , Vitamin B-6  0.04 mg, Asam Folat  9.3 mcg , Vitamin B-12  0.467 mcg dan lain-lain. Jadi dengan banyaknya produk minuman sekarang ini fruitghurt bisa menjadi salah satu minuman pilihan anda dan keluarga.